Raja Ampat

Raja Ampat

Kabupaten Raja Ampat  memiliki sekitar 600 pulau, baik yang berukuran kecil maupun besar. Empat pulau  yang relatif cukup besar adalah  Pulau Misool, Salawati, Batanta dan Waigeo. Dari seluruh pulau hanya sekitar 35 pulau yang berpenghuni sedangkan pulau lainnya tidak berpenghuni dan sebagian besar belum memiliki nama. Pada awal perkembangan, Kabupaten Raja Ampat sesuai dengan UU RI No. 26 Tahun 2002, terdiri dari 7 distrik. Sejalan dengan perkembangan kabupaten, maka hingga tahun 2010 telah terjadi beberapa kali pemekaran distrik dan kampung, sehingga pada saat ini kabupaten ini telah menjadi 24 distrik

Kepulauan Raja Ampat merupakan rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan dan berlokasi di barat bagian Kepala Burung (Vogelkoop) Pulau Papua. Secara administrasi, gugusan ini berada di bawah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Kepulauan ini sekarang menjadi tujuan para penyelam yang tertarik akan keindahan pemandangan bawah lautnya. Empat gugusan pulau yang menjadi anggotanya dinamakan menurut empat pulau terbesarnya, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta

Asal mula nama Raja Ampat menurut mitos masyarakat setempat berasal dari seorang wanita yang menemukan tujuh telur. Empat butir di antaranya menetas menjadi empat orang pangeran yang berpisah dan masing-masing menjadi raja yang berkuasa di Waigeo, Salawati, Misool Timur dan Misool Barat. Sementara itu, tiga butir telur lainnya menjadi hantu, seorang wanita, dan sebuah batu

Administratif

Secara geografis, Raja Ampat berada pada koordinat 01º15°LU-2º15°LS & 120º10-121º10°BT. Luas wilayah Kepulauan Raja Ampat adalah 46.108 km2, terbagi menjadi 10 distrik, 86 kampung, dan 4 dusun

Topografi

Kabupaten Raja Ampat sebagai wilayah kepulauan, maka memiliki wilayah daratan yang relatif tidak besar dan pada umumnya topografi  daerahnya didominasi oleh wilayah  perbukitan yang masih dipenuhi dengan hutan alami. Sedangkan wilayah pesisir pantai memiliki karakteristik yang beragam seperti pantai landai berpasir hitam, pantai landai berpasir putih dengan terumbu karang yang sudah rusak sampai dengan yang masih perawan, pantai dalam dan hutan mangrove. Kemiringan lahan wilayah perencanaan merupakan lahan dengan kemiringan antara 0% sampai dengan di atas 40%. Sebagian wilayah berupa pegunungan daerah lereng-lereng yang curam seperti di Pulau Batanta, Pulau Waigeo, dan Pulau Salawati. Daerah pegunungan ini dapat mencapai 100 – 300 meter di atas permukaan laut. Wilayah dengan ketinggian di bawah 100 meter dpl. umumnya terdapat pada Pulau Salawati bagian selatan. Jika dilihat dari fisiografinya, maka Kabupaten Raja Ampat bagian utara, yaitu Pulau Waigeo dan sebagian Pulau Batanta didominasi oleh pegunungan. Sedangkan pada bagian tengah terutama Pulau Salawati cukup luas daerah datarnya. Untuk Pulau Misool walaupun sebagian besar daerahnya pegunungan, tetapi pada bagian tengah pulau terdapat daerah yang datar

Klimatologi

Karena posisinya berada di bawah garis katulistiwa, Kabupaten Raja Ampat mempunyai iklim tropis yang lembab dan panas dengan suhu udara terendah 23,60C dan suhu tertinggi 30,70C. Temperatur rata-rata sebesar 27,20C dengan kelembaban udara rata-rata 87%. Curah hujan yang terjadi adalah 4.306 milimeter dan merata sepanjang tahun dengan jumlah hari hujan antara 19 – 29 hari setiap bulannya.

Hidrologi

Geologi

Kondisi geologi Kabupaten Raja Ampat didominasi oleh formasi batuan kapur yang terbentuk pada masa kuarter.. Pada umumnya batu gamping tersebut bersifat padat dan mengandung pasir seperti batu gamping facet, daram, atkari, zaag, openta, sagewin, dan bogal. Jenis batuan lain di wilayah ini adalah batuan sedimen konglomerat yang komposisinya terdiri dari bahan yang tahan lapuk berupa konglomerat aneka bahan. Beberapa formasi batuan yang terdapat di wilayah ini adalah Formasi Yaben, Formasi Klasafet, Formasi Waigeo, Formasi Rumai, Formasi Yarefi, Formasi Demu, dan Formasi Fafanlaf. Batu metamorf yang ada adalah batuan malihan ligu sedangkan batuan beku terdapat di batuan Gunung Api Batanta dan batuan Gunung Dore. Wilayah ini juga termasuk daerah rawan gempa karena dilalui sesar Sorong yaitu yang menjulur dari daratan Papua bagian Utara menyeberangi Selat Sele dan menuju bagian Utara Pulau Salawati. Lebarnya 10 km dan arahnya ke Barat dan Barat Daya

Kondisi Lahan

Pengunaan lahan di Kabupaten Raja Ampat meliputi persawahan, pemukiman, tegalan/ladang, perkebunan rakyat serta untuk kegiatan lainnya. Penggunaan lahan di beberapa pulau sebagian besar masih berupa hutan alami yang belum terjamah. Beberapa pulau seperti Pulau Salawati, Pulau Saonek, Pulau Waigeo, Pulau Mansuar, dan Pulau Misool telah berdiri bangunan permanen dan fasilitas umum (sekolah, puskesmas, balai desa, kantor kecamatan). Lahan yang telah digunakan untuk permukiman secara keseluruhan berada di dekat pantai.

Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat hasil sensus penduduk tahun 2010 berjumlah 42.508 jiwa, 53,3% adalah penduduk laki-laki dan sisanya 46,7 % adalah perempuan. Jumlah ini jika dibandingkan jumlah penduduk hasil proyeksi tahun 2014 telah mengalami peningkatan sebesar 45.310 jiwa dengan jumlah laki-laki 24.007 dan perempuan 21.303 dengan seks ratio sebesar 112,69

Kepadatan Penduduk

Perkembangan Penduduk

Pertumbuhan penduduk yang sangat signifikan dari tahun ke tahun adalah di Distrik Waisai, hal ini karena adanya pembangunan besar-besaran Kota Waisai sebagai ibukota kabupaten, pertumbuhan penduduk ini lebih karena imigrasi penduduk khususnya pegawai pememerintah daerah, tenaga kerja sektor bangunan serta sektor pedagangan dan jasa. Distribusi penduduk tersebar di kampung-kampung yang hampir semua kampung berada di tepi pantai baik yang di pulau besar seperti P. Salawati, P. Batanta, P. Waigeo maupun P. Misool maupun di pulau-pulau kecil seperti P. Saonek, P. Gag, P. Deer, P. Fani dll. Jumlah penduduk tiap desa mayoritas masih dibawah satu ribu jiwa. Luas wilayah Kabupaten Raja Ampat mencapai 6.084.500 Km2 sedangkan jumlah penduduk hanya 42.508 jiwa, maka kepadatan penduduk baru 7 Jiwa/Km2

Jalan

Angkutan Darat

Angkatan Laut

Ibukota kabupaten Raja Ampat adalah Waisai yang terletak di Pulau Waigeo. Waisai dapat dijangkau dari Kota Sorong menggunakan transportasi laut, yaitu kapal nelayan yang memakan waktu perjalanan 5 jam atau dengan kapal cepat (speed boat) yang memakan waktu perjalanan 2 jam. Transportasi laut memiliki peranan sangat penting untuk Kabupaten Raja Ampat yang terdiri dari ratusan gugus pulau kecil.

Sistem transportasi di Kabupaten Raja Ampat tidak terlepas dari peran Pelabuhan Sorong sebagai Pelabuhan Utama. Kegiatan pelabuhan berorientasi ke Kota Sorong, baik arus penumpang maupun barang. Selain itu, terdapat juga sebagian kecil ke Ternate dan Ambon. Dari pelabuhan Sorong terdapat pelayaran internasional (khusus untuk angkutan minyak mentah, ikan tuna dan kayu lapis); dan pelayaran nusantara yang meliputi trayek pelayaran nusantara, trayek kapal penumpang, trayek lokal, pelayaran rakyat dan angkutan sungai, danau dan ferry.

Trayek transportasi laut untuk Kabupaten Raja Ampat dengan Sorong berupa : Pelayaran rakyat : Sorong-Waigeo-Batanta-Salawati-Misool, dan angkutan Sungai, Danau dan Ferry : Jalur Sungai Klamono-Sungai Waigeo. Pelayanan transportasi laut di Kabupaten Raja Ampat sangat bergantung pada musim. Pada bulan-bulan tertentu (April-Agustus) kondisi gelombang sangat besar sehingga transportasi laut tidak dapat menjangkau daerah-daerah seperti Kepulauan Ayau, Kofiau atau Misool.

Pendidikan

Infrastruktur pendidikan sebagai penunjang kegiatan pendidikan yang penting bagi pembangunan daerah perlu dicermati. Dari pendataan yang dilakukan oleh BPS pada tahun 2008 tercatat bahwa terdapat 6 Taman Kanak-Kanak. Sekolah Dasar sebanyak 93 unit sekolah dan terdapat di setiap distrik. Jumlah murid aktif yang tercatat di tahun 2008 adalah sebanyak 8.169 murid. Seluruh distrik memiliki sekolah lanjutan untuk tingkat pertama atau SLTP, kecuali di Distrik Misool Barat. Jumlah SLTP di seluruh kabupaten adalah 21 unit dengan 1.680 murid dan 171 guru yang bertugas. Adapun untuk SLTA tercatat sebanyak 7 unit yang terdapat di beberapa distrik yaitu Misool, Kofiau, Waigeo Selatan, Waigeo Utara, Misool Selatan, Misool Barat dan Salawati Utara

Bila melihat jumlah SD yang ada, maka Raja Ampat masih kekurangan tenaga pengajar. Idealnya, satu SD itu dilayani oleh 8 – 10 guru. Berarti pada saat ini jumlah guru yang ada baru mencapai 55% dari kondisi ideal yang dibutuhkan. Dengan demikian, Kabupaten Raja Ampat masih membutuhkan guru SD sebanyak 288 – 448 orang

Banyak tenaga pengajar yang tidak menetap di tempat tugasnya dan terkadang sekolah diliburkan. Lemahnya komitmen tenaga pengajar untuk mengajar di daerah terpencil menyebabkan mereka seringkali ke kota dan meninggalkan tugasnya dalam waktu yang lama

Kesehatan

Di Kabupaten Raja Ampat terdapat 1 unit rumah sakit yang berlokasi di Distrik Waigeo Selatan. Sedangkan fasilitas Puskesmas terdapat di hampir seluruh distrik kecuali Distrik Kep. Sembilan dan Distrik Warwabomi. Di seluruh kabupaten terdapat 16 unit Puskesmas. Adapun Puskesmas Pembantu terdapat 33 unit Puskesmas Pembantu. Puskesmas Pembantu ini berlokasi di 14 distrik. Untuk Balai Pengobatan, hanya terdapat 1 unit di Distrik Misool. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa di seluruh distrik telah terdapat fasilitas kesehatan baik itu Puskesmas ataupun Puskesmas Pembantu

Peribadatan

Listrik

Saat ini kebutuhan listrik dipasok dari 7 unit pembangkit listrik yang terdapat di Kalobo,Saonek, Wagimana, Waisai dan Kabare. Untuk kapasitas terpasang saat ini adalah 172 KW dengan kemampuan mesin 162 KW

Sumber Daya Air

Sebelum dibangun SPAM, masyarakat memanfaatkan sumur gali dengan variasi kedalaman antara 10-15 m. Untuk keperluan sehari-hari masyarakat tidak mengalami kesulitan air bersih, seperti kebutuhan air bersih untuk minum, mencuci dan mandi. Sedangkan untuk penyediaan kebutuhan air bersih di Kabupaten Raja Ampat saat ini dipenuhi dari hasil penampungan air dan dari sumur selain dengan memanfaatkan sumber air yang ada. Cara lain dalam pengadaan sumber air bersih dapat dilakukan dengan pembuatan sumur artesis dan sumur pompa

Persampahan

Sistem Penyediaan Air Minum

Sampai saat ini tercatat ada 175 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah penduduk sekitar 730 jiwa, termasuk warga penghuni Pulau Lemon. SPAM perdesaan ini telah dipasang diameter 100  mm sepanjang 2.500 meter dan diameter 75  mm sepanjang 2.600 meter. Air yang diambil dari pompa Submersible Kapasitas 2,5 liter per detik sebanyak 3 unit kemudian ditampung ke Reservoar Kapasitas 50 m3 melalui pipa-pipa tersebut. SPAM ini pada tahun 2012 sudah dipasang lima unit keran umum. Pada tahun 2013 pipa ditambah sepanjang 1.014 meter (dia 100 mm) dan 750 meter (dia 75 mm). Pada 2013, sebanyak 90 unit Sambungan Rumah (SR) telah dialiri air dari SPAM desa Pulau Mansinam

Peta Rencana

Kontak