Kedung Sepur

Kedung Sepur

Kawasan Perkotaan Kedung Sepur (Kendal-Demak-Ungaran-Salatiga-Semarang-Purwodadi) terletak di Provinsi Jawa Tengah yang terdiri atas Kota Semarang sebagai kawasan perkotaan inti dan kawasan perkotaan di sekitarnya yang meliputi Kabupaten Kendal, Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang, Kabupaten Grobogan, dan Kota Salatiga. Hampir setengah dari penduduk Kawasan Perkotaan Kedung Sepur berdomisili di Kota Semarang. Jumlah penduduk akhir tahun rencana (2027) diperkirakan kurang lebih 6.812.557 jiwa dan 2.356.251 jiwa (35%) bermukim di Kota Semarang. Kondisi fisik Kawasan Perkotaan Kedung Sepur sangat beragam dengan ketinggian 0–99 m dpl dan ketinggian 100 – 499 m dpl pada sebagian kawasan di bagian utara dan timur, serta ketinggian 500-999 m dpl dan ketinggian di atas 1.000 m dpl di bagian selatan dan barat daya.

Dasar penetapan Kawasan Perkotaan Kedung Sepur sebagai salah satu Kawasan Stratetgis  Nasional adalah PP No. 26 tahun 2008 tentang RTRWN. Pertimbangan penetapan Kedung Sepur sebagai kawasan perkotaan antara lain luas penggunaan lahan perkotaan yang cukup mendominasi; pola pergerakan yang cukup tinggi ke Kota Semarang dari kota-kota di sekitarnya seperti Kab. Semarang, Kab. Kendal, dan Kab. Demak; serta aspirasi stakeholder.

Seiring dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dan jumlah penduduk, Kawasan Perkotaan  Kedung Sepur cenderung terus tumbuh dan mengarah pada penyatuan fisik dengan tingkat interaksi yang sangat tinggi serta dalam upaya menghadapi tantangan era globalisasi dimasa depan. Oleh karenanya diharapkan Kawasan Perkotaan Kedung Sepur mampu memanfaatkan peluang melalui penerapan prinsip “kemandirian lokal”. Prinsip ini diyakini mampu menggali potensi dan warna lokal secara optimal dan kemudian dapat memanfaatkannya sebagai identitas Kawasan Perkotaan Kedung Sepur agar dapat bersaing dalam kegiatan pembangunan di bidang sosial ekonomi dan budaya maupun politik. Secara umum dapat diartikan bahwa dengan memanfaatkan potensi lokal, diharapkan akan dapat berkembang lebih cepat. Di samping itu, di dalam Kawasan Perkotaan Kedung Sepur diharapkan terwujud kerja sama diantara kabupaten/ kota terkait untuk dapat menciptakan manfaat kepada semua masyarakat yang ada di dalamnya melalui mekanisme yang jelas. Dengan demikian, diharapkan akan terwujud pemanfaatan ruang yang sama-sama terkait, berkesinambungan, dan berkelanjutan antar kabupaten/ kota.

 

1.1 Lingkup Wilayah

Lingkup wilayah studi meliputi seluruh wilayah Kedungsepur yang terdiri atas:

  1. Kabupaten Kendal, meliputi 19 kecamatan, 265 desa dan 20 kelurahan.
  2. Kabupaten Demak, meliputi 14 kecamatan, 247 desa.
  3. Kabupaten Semarang, meliputi 17 kecamatan, 220 desa dan 15 kelurahan.
  4. Kota Semarang, meliputi 16 kecamatan, 117 kelurahan
  5. Kota Salatiga, meliputi 4 kecamatan, 16 kelurahan
  6. Kabupaten Grobogan, meliputi 19 kecamatan, 280 desa.

 

Sedangkan untuk batas-batas wilayah Kedungsepur adalah sebagai berikut:

  • Sebelah Utara : Laut Jawa dan Kabupaten Jepara.
  • Sebelah Timur : Kabupaten Pati, Blora dan Kudus.
  • Sebelah Barat : Kabupaten Batang.
  • Sebelah Selatan : Kabupaten Sragen, Boyolali, Magelang dan Temanggung.

 

Kawasan Kedungsepur merupakan gabungan dari enam Kabupaten/Kota, terletak di bagian utara Provinsi Jawa Tengah. Wilayah ini secara geografis terletak diantara 109°10’ - 111°25’ BT, dan 6°43’26’’ - 7°32’ LS.

Luas keseluruhan Wilayah Kedungsepur sebesar 5.256,53 Km2 atau sekitar 16,25% dari total keseluruhan luas wilayah Provinsi Jawa Tengah. Secara topografi, Kawasan Kedungsepur bagian utara terletak pada ketinggian antara 0-25 m dan merupakan daerah dataran rendah, sedang bagian Selatan memiliki ketinggian antara 0-2.579 m yang merupakan daerah tanah pegunungan.

1.1 Kondisi Fisik Dasar

  1. Kondisi Topografi dan Morfologi

Secara topografi, Kawasan Kedungsepur bagian utara terletak pada ketinggian antara 0-25 m dan merupakan daerah dataran rendah, sedang bagian Selatan memiliki ketinggian antara 0-2.579 m yang merupakan daerah tanah pegunungan.

Ketinggian masing-masing daerah Wilayah Kedungsepur, yaitu:

  • Kabupaten Kendal : 50-2.579 m dpl
  • Kabupaten Demak : 3-100 m dpl
  • Kabupaten Semarang : 310-1.950 m dpl
  • Kabupaten Grobogan : 11-129 m dpl
  • Kota Semarang : 0,75-359 m dpl
  • Kota Salatiga : 525-675 m dpl

Kondisi fisik wilayah ini mempunyai karakteristik, yaitu:

  • Pesisir Utara, membentang dari Kendal, Kota Semarang ke Demak.

Kawasan ini merupakan kawasan pantai yang dibudidayakan sebagai kawasan tambak serta menjadi daerah hilir/muara beberapa sungai besar di Sub Regional Kedungsepur;

  • Bagian Selatan, merupakan daerah pegunungan dan dataran tinggi yang sudah tidak aktif lagi, dengan puncaknya yaitu Gunung Ungaran. Daerah ini merupakan daerah yang cukup subur, banyak mata air, hulu sungai, serta tambang mineral;
  • Bagian Timur dan Tenggara, terdapat daerah rawan banjir yaitu di daerah Demak.

Kondisi fisik Kawasan Kedungsepur secara umum cukup beragam, meliputi wilayah yang dataran rendah hingga perbukitan, sebagai bentukan akibat dilingkupi oleh beberapa gunung dan pegunungan.

 

  1. Kondisi Klimatologi

Iklim merupakan kondisi rata-rata dari semua peristiwa yang terjadi di atmosfer yang terdapat pada suatu daerah yang luas serta pada waktu relatif lama. Secara umum Kawasan Kedungsepur beriklim tropis, curah hujan rata-rata tahunan sebesar 3.846,4 mm dan hari hujan rata-rata adalah 124 hari/tahun Temperatur udara maksimum-minimum di Kawasan Kedungsepur rata rata 33,7 °C dengan temperatur tertinggi pada bulan September dan temperatur terendah pada bulan Juli dan Agustus (22,4°C). Sedangkan kelembaban nisbi rata rata mencapai 79 % dengan prosentase terbesar pada bulan Desember yang mencapai rata-rata 85%, sedangkan arah angin sebagian besar bergerak dari arah tenggara barat laut dengan kecepatan rata-rata antara 5,90 km per jam.

 

  1. Kondisi Hidrologi

Sumber-sumber air di Wilayah Kedungsepur berupa sumber air di permukaan tanah dan air tanah. Sumber air di permukaan tanah berasal dari sungai-sungai, bendungan, laut dan pantai. Sungai-sungai utama yang terdapat di Wilayah Kedungsepur meliputi: Kali Bulawan, Sungai Garang, Sungai Bodri, Sungai Babon/Penggaron, Sungai Jragung, Sungai Tuntang dan Sungai Serang.

Adapun sumber-sumber mata air selain sungai terdiri atas danau, waduk dan mata air yang antara lain meliputi: Rawa Pening, beberapa mata air dan Waduk Kedung Ombo.

 

  1. Kondisi Geologi
  • Geomorfologi

Struktur geomorfologi di Kawasan Kedungsepur dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu dataran rendah dan perbukitan. Dataran rendah terutama pada wilayah kabupaten/kota yang terletak di pesisir pantai utara. Sedangkan daerah perbukitan mencakup wilayah Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kota Semarang serta Kabupaten Kendal bagian Selatan.

  • Stratigrafi

Kondisi stratigrafi di Kawasan Kedungsepur disusun oleh struktur batuan yang terbagi menjadi dua bagian. Daerah dataran rendah memiliki struktur geologi berupa batuan endapan atau alluvium yang berasal dari endapan sungai.

Sedangkan daerah perbukitan memiliki susunan batuan beku. Secara keseluruhan struktur geologi Kawasan Kedungsepur terdiri dari batuan alluvium berupa aluvial kelabu kuning dan aluvial yodimorf.

  • Struktur Geologi

Pada dasarnya struktur geologi yang menyusun Kawasan Kedungsepur cenderung bervariasi tergantung dari letak wilayah terhadap daerah sekitarnya. Struktur geologi di Kawasan Kedungsepur terdiri dari berbagai batuan yang meliputi: Batuan Endapan Aluvial, Batuan Formasi Kerek, Batuan Formasi Damar, Batuan Formasi Kaliteng, Batuan Formasi Kaligetas, Batuan Gunung Api Gajahmungkur, Batuan Gunung Api Gilipetung, Batuan Formasi Penyatan, Batuan Gunung Api Merbabu, Batuan Formasi Bulu, Batuan Gunung Api Tak Terpisahkan

 

1.2 Potensi Sumber Daya Alam

Topografi Wilayah Kedungsepur yang bervariasi menghasilkan bentang alam yang unik karena terdiri dari daerah dataran rendah (dataran pantai), hingga daerah yang merupakan dataran tinggi. Kondisi daerah hilir Wilayah Kedungsepur yang relatif datar sangat potensial untuk dijadikan daerah pengembangan fisik kawasan. Cadangan lahan untuk pembangunan fisik masih tersedia cukup luas, terutama pada kawasan yang berbatasan dengan Kota Semarang sebagai kota dengan pertumbuhan yang sangat pesat.

Kondisi hidrologi Wilayah Kedungsepur sangat potensial untuk dijadikan sebagai sumber air baku dan sumber air irigasi karena banyaknya sungai yang ada dan mengalir secara lintas daerah dari hulu ke hilir. Sungai ini juga dapat berfungsi sebagai jaringan drainase primer untuk mengalirkan air hujan.

Selain itu, Wilayah Kedungsepur juga memiliki potensi cekungan air tanah yang cukup tinggi serta mempunyai banyak sumber mata air yang dapat digunakan sebagai sumber air baku. Sumber-sumber air di Wilayah Kedungsepur berupa sumber air di permukaan tanah dan air tanah. Sumber air di permukaan tanah berasal dari sungai-sungai, bendungan, laut dan pantai. Sumber-sumber mata air selain sungai terdiri atas danau, waduk dan mata air yang antara lain, yaitu:

    1. Rawa Pening

Danau ini terletak di tiga wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Ambarawa, Tuntang, dan Banyubiru. Dalam penggunaannya, danau ini dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik, irigasi, perikanan darat, serta pariwisata dan rekreasi.

    1. Mata air dengan tingkat produktivitas kecil, yaitu 15% dari luas wilayah, meliputi Kecamatan Kedungjati, Gabus, Ngaringan, Wirosari, Tawangharjo, Grobogan, Brati, Klambu, dan Tanggungharjo. Air tanah langka meliputi daerah Kecamatan Purwodadi, Klambu, Godong, Gubug, dan Tegowanu.
    2. Waduk Kedung Ombo

Sumber air yang berasal dari waduk Kedung Ombo difungsikan sebagai potensi sunber daya alam dalam memenuhi kepentingan kehidupan penduduk beserta aktivitasnya juga berfungsi dalam menjaga keseimbangan ekosistem (lingkungan).

Potensi sektor pertanian di wilayah Kedungsepur didukung oleh lahan pertanian sawah beririgasi teknis merupakan lahan yang berpotensi memberikan produktivitas tinggi dalam budidaya pertanian sawah, terutama padi karena lahan beririgasi teknis ini biasanya mampu menghasilkan padi sedikitnya dua kali panen setiap tahunnya. Untuk itu dalam pengembangan wilayah di masa datang, keberadaan lahan pertanian ini perlu untuk dipertahankan, dan peningkatan lahan pertanian beririgasi sederhana maupun setengah teknis tertentu menjadi lahan beririgasi teknis.

Di sisi lain, mempertahankan keberadaan lahan ini diharapkan akan mampu menjaga keseimbangan kawasan terbangun dan non terbangun. Sehingga dalam perkembangan selanjutnya, perlu tetap mempertahankan lahan sawah beririgasi teknis untuk tidak dikonversi menjadi penggunaan lahan jenis lain.

Sawah beririgasi teknis pada Wilayah Kedungsepur seluas 59,702 Ha dan tersebar hampir di setiap kecamatan Lahan sawah yang masih luas yaitu di Kabupaten Grobogan sebesar 36,30% dari luas lahan sawah Wilayah Kedungsepur dan Demak sebesar 27,71% serta Kendal 20,63%. Masih luasnya lahan sawah di ketiga daerah tersebut karena sebagai produsen padi untuk Jawa Tengah

Wilayah Kedungsepur memiliki potensi komoditas pertanian yaitu padi dan palawija. Kawasan yang menjadi sentra produksi padi sawah yaitu di Kabupaten Demak dengan luas sawah 31.100 hektar. Penetapan Kabupaten Demak sebagai sentra produksi padi didasarkan pada terjadinya surplus padi sebesar 200.000-210.000 ton / tahun.

Kedungsepur juga kaya akan sumber daya mineral yang terdiri dari bahan galian bangunan, industri, dan keramik. andesit, sirtu dan tanah urug yang termasuk ke dalam jenis bahan galian bangunan banyak dijumpai di Wilayah Kedungsepur. Bahan galian yang paling besar yaitu batu gamping yang terdapat di Kabupaten Grobogan. Bahan galian ini layak tambang, dengan persyaratan penggalian harus dilakukan secara teras dengan ketinggian yang teratur dan menghindari lubang-lubang galian.

Bahan galian yang juga layak tambang yaitu tanah liat yang terdapat di Kabupaten Grobogan dan Kendal. Bahan galian tanah liat layak ditambang pada daerah pedataran umumnya berupa persawahan dan tegalan. Persyaratan yang harus diperhatikan dalam penambangan ini antara lain kedalaman tidak melebihi permukaan air tanah setempat, penggalian dilakukan secara lateral dengan kedalaman yang teratur dan menghindari lubang-lubang galian.

Bahan galian andesit yang layak tambang di Kabupaten Kendal, dengan memenuhi persyaratan penambangan harus dengan metode lateral dan dibuat teras-teras dengan ketinggian tertentu. Bahan galian andesit umumnya terletak pada daerah dataran tinggi, atau bukit-bukit dan gunung sehingga penambangannya harus memperhatikan fungsi kawasan dimana bahan galian tersebut berada.

Sirtu layak ditambang secara terbatas (tidak ditambang besar-besaran), karena jika ditambang secara besar-besaran akan mengakibatkan peningkatan erosi arus sungai baik secara vertikal maupun lateral yang akan terbawa dan membentuk sedimentasi di hilir sungai. Adapun sirtu yang tidak layak untuk ditambang karena jika sirtu sebagai peredam arus diambil akan berakibat pada terbawanya material hasil erosi sehingga dapat mempercepat pendangkalan rawa.

Trass layak ditambang dengan memperhatikan penempatan tanah penutup, sudut kelerengan, dan diutamakan menggunakan peralatan sederhana. Sedangkan penambangan yang tidak layak dilakukan karena terdapat jaringan fasilitas perkotaan dan rentan terhadap erosi. Demikian pula pada daerah yang memiliki lahan lebih produktif untuk tanaman perkebunan disamping tanah penutup cukup tebal.

 

1.3 Kondisi Pemanfaatan Ruang

Kondisi pemanfaatan ruang di Wilayah Kedungsepur dipengaruhi oleh kondisi topografinya, yaitu meliputi daerah pesisir dengan pemanfaatan ruang sebagai kawasan budidaya perikanan atau tambak, kawasan pertanian dengan topografi yang relatif datar dan kawasan bukit atau pegunungan yang banyak dimanfaatkan untuk perkebunan dan kawasan lindung.

Tanah sawah relatif tidak banyak terdapat di Kota Semarang. Dari luas tanah yang ada, tanah sawah hanya mencakup 6,47% dari total luas wilayah. Tidak ada kecamatan yang luas tanah sawahnya melebihi 30% dari luas total wilayah. Guna lahan yang berupa hutan juga tidak banyak terdapat; hanya ada di Kecamatan Mijen dan Kecamatan Ngaliyan. Pada daerah pusat kota yang menjadi simpul aktivitas, guna lahan didominasi oleh guna lahan bangunan; bahkan mencapai di atas 80% yaitu di Kecamatan Gajahmungkur, Candisari, Gayamsari, Semarang Timur, Semarang Utara, dan Kecamatan Semarang Tengah.

Kecenderungan yang ada menunjukkan bahwa perkembangan fisik pada pusat kota ini sudah jenuh, sehingga cenderung melebar pada wilayah sub urban dengan mengikuti jaringan jalan yang ada. Wilayah kota Semarang memerlukan pengembangan lebih lanjut guna memenuhi kebutuhan akan kegiatan-kegiatan sebagai kota pusat pertumbuhan.

Wilayah rencana pengembangan yang cukup potensial adalah wilayah Kecamatan Mijen, Gunungpati, Tembalang, Genuk, dan Kecamatan Ngaliyan yang berada pada daerah pinggir kota. Kawasan industri juga berkembang pada daerah pinggiran Kota Semarang yaitu koridor Genuk-Sayung, Pedurungan-Mranggen, Pudakpayung-Ungaran yang melebar hingga ke daerah Bergas dan Pringapus (Kabupaten Semarang), serta Tugu-Kaliwungu.

Kawasan industri ini perlu dimantapkan karena dapat berfungsi sebagai generator pertumbuhan wilayah, dengan cara menyediakan sarana dan prasarana penunjang serta ditopang dengan kebijakan yang mendukung seperti perijinan satu atap dan penetapan kawasan berikat dengan insentif bagi industri.

Di sisi lain, kawasan industri yang ada harus dibatasi perkembangannya agar tidak masuk ke dalam CBD kota dan tidak mengkonversi lahan produktif yang ada, karena potensi pencemaran yang ditimbulkan.

Kondisi pemanfaatan ruang di Kabupaten Semarang tidak sepadat kondisi pemanfaatan fisik Kota Semarang. Tanah sawah masih banyak terdapat pada tiap wilayah kecamatan, rata-rata mencapai 30%. Pada wilayah yang luas sawahnya kurang dari 30%, penggunaan lahan dominan adalah sebagai tanah tegalan atau hutan. Guna lahan yang berupa hutan terdapat cukup luas, terutama di Kecamatan Bringin (845 ha) dan Kecamatan Pringapus (593 ha). Open space yang masih cukup luas menjadikan wilayah Kabupaten Semarang cukup potensial untuk dikembangkan, sekaligus menampung limpahan pertumbuhan Kota Semarang.

Hanya saja, pengembangan ini harus mempertimbangkan aspek konservatif, mengingat kedudukan Kabupaten Semarang sebagai daerah hulu yang berpengaruh langsung pada wilayah hilirnya, khususnya Kota Semarang.

Seperti halnya pemanfaatan lahan di Kota Semarang, pemanfaatan lahan di Kota Salatiga sangat dominan berupa pekarangan/bangunan, yang pada semua kecamatan mencapai di atas 50%, kecuali di Kecamatan Tingkir yang seluas 49,64% dari luas wilayah. Pemanfaatan lahan yang berupa hutan juga ada di Kota Salatiga, meskipun luasnya tidak begitu besar. Penggunaan lahan yang berupa lahan terbangun berada pada daerah pusat kota dan di sepanjang jalur regional, karena posisi Kota Salatiga yang merupakan kota transit. Sedangkan wilayah open space berada pada daerah belakangnya, terutama pada daerah-daerah pinggiran.

Kota Salatiga juga berfungsi sebagai wilayah konservasi dan daerah tangkapan air bagi daerah hilir, sehingga rencana pengembangan harus memperhatikan aspek ekologis dan daya dukung lahan.

Secara umum, wilayah Kabupaten Kendal terbagi dalam dua bagian;

bagian atas yang berupa dataran tinggi dengan dominasi berupa hutan dan tegalan yang berfungsi sebagai kawasan lindung dan penyangga, serta bagian bawah yang berupa dataran rendah yang cenderung berfungsi sebagai wilayah pusat aktivitas serta wilayah yang berbatasan dengan Laut Jawa yang berkembang sebagai areal pertambakan. Pemanfaatan lahan di Kabupaten Kendal didominasi oleh lahan terbuka yaitu tanah sawah seluas 33,84%, serta lahan kering non terbangun. Guna lahan yang berupa bangunan hanya ada seluas 17,23% dari luas wilayah yang ada.

Wilayah yang banyak daerah terbangunnya adalah wilayah yang berada pada jalur Pantura yaitu Kota Kendal, Kecamatan Weleri, Kecamatan Patebon, dan Kecamatan Ringinarum; serta wilayah yang berbatasan dengan Kota Semarang yaitu Kecamatan Boja. Guna lahan yang berupa hutan sebagai daerah konservasi terdapat pada daerah sebelah selatan yang berupa pegunungan, yaitu Kecamatan Gemuh. Perkembangan fisik di Kabupaten Kendal cenderung berkumpul pada pusat aktivitas dan simpul kegiatan ekonomi, serta linier mengikuti jaringan jalan, terutama jalan regional pantura. Wilayah yang cenderung cepat perkembangannya adalah wilayah bawah yang memiliki akses pembagi ke arah selatan yaitu Kecamatan Weleri dan Kecamatan Kaliwungu.

Pemanfaatan lahan di Kabupaten Demak didominasi oleh tanah sawah seluas 56,23% dari luas wilayah. Guna lahan terbangun hanya seluas 15,02% dari luas keseluruhan. Wilayah Kabupaten Demak cenderung datar dan guna lahan yang berupa hutan relatif tidak banyak terdapat; hanya ada di Kecamatan Mranggen (100 ha) dan Kecamatan Karangawen (1.472 ha), sedangkan wilayah yang berbatasan dengan Laut Jawa berkembang sebagai areal pertambakan.

Wilayah yang berkembang dengan cukup pesat adalah wilayah yang dilewati jalur pantura dan wilayah yang berbatasan dengan Kota Semarang. Jalur pantura menjadi daya tarik yang sangat besar, sedangkan wilayah yang berbatasan dengan Kota Semarang telah mengalami konurbasi, yaitu pada Kecamatan Sayung dan Kecamatan Mranggen yang mendapat limpahan pertumbuhan industri dan aktivitas lainnya dari Kota Semarang. Perkembangan fisik di masa datang harus mempertimbangkan kondisi bahwa sebagian besar lahan Kabupaten Demak adalah sawah produktif, yang sebaiknya tidak dikonversi menjadi tanah kering.

Pemanfaatan lahan di Kabupaten Grobogan didominasi oleh tanah kering seluas 63,87%, sedangkan tanah sawah hanya terdapat sebesar 36,13%. Sebagian besar tanah kering berupa tegalan dan hutan, sedangkan yang berupa pekarangan/bangunan hanya sebesar 15,35%. Wilayah terbangun yang ada berkembang mengikuti jaringan jalan Semarang-Purwodadi, dan tumbuh secara sporadis. Wilayah yang berupa dataran rendah dan berfungsi sebagai kawasan budidaya terdapat pada bagian tengah wilayah Kabupaten Grobogan, sedangkan wilayah pinggiran adalah kawasan penyangga dan kawasan lindung, terutama di wilayah Kecamatan Tanggungharjo. Dengan banyaknya kawasan penyangga, maka pengembangan yang ada harus memperhatikan aspek ekologis agar sesuai dengan daya dukung lahan yang ada.

 

 

 

1.4 Potensi Pemanfaatan Ruang

Potensi pemanfaatan ruang di wilayah Kedungsepur ditunjukkan dengan peruntukan daya dukung lahan sebagai kawasan budidaya cukup luas. Hal ini merupakan potensi bagi ketersediaan cadangan lahan untuk mengantisipasi perkembangan secara fisik. Kebanyakan lahan yang berada di bagian hilir kawasan merupakan lahan dengan daya dukung lahan sebagai kawasan budidaya.

Yang perlu diingat adalah perubahan guna lahan menjadi daerah terbangun harus memperhitungkan guna lahan sebelumnya dan tidak boleh mengkonversi lahan yang merupakan lahan pertanian subur serta lahan yang berfungsi sebagai penahan intrusi air laut.

Perkembangan wilayah perkotaan yang cenderung berbentuk linier mengikuti jaringan jalan akan mempermudah akses pelayanan prasarana. Di sisi lain, kawasan yang bukan merupakan kawasan perkotaan dapat berkembang dengan berorientasi pada sektor agraris atau mengandalkan pariwisata.

Kecenderungan perkembangan yang tidak lagi berorientasi pada daerah pusat kota (CBD) akan dapat mengurangi beban daerah CBD. Dengan demikian, perkembangan kota akan berjalan dengan lebih luas, pelayanan prasarana di pusat kota akan optimal, dan CBD akan menjadi kota yang lebih manusiawi. Di sisi lain, daerah suburban yang menjadi daerah yang terpengaruh perkembangan CBD akan lebih berkembang. Pemerataan perkembangan ini yang didukung dengan pengalokasian pusat-pusat perkembangan wilayah akan meningkatkan kondisi perekonomian wilayah dan mengurangi disparitas antar wilayah.

Perkembangan wilayah perkotaan tersebut tidak dapat dilepaskan dari potensi transportasi yang dimiliki, seperti jalan arteri dan jalan kolektor yang menghubungkan wilayah atau kota-kota besar lainnya di dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah maupun dengan wilayah provinsi lain, yaitu jalur Semarang-Bawen, Bawen-Surakarta, dan Bawen-Magelang-Yogyakarta. Jalur ini merupakan jalur yang menghubungkan Jawa Tengah bagian Utara (Semarang, Kudus, Pekalongan, Tegal, dan sekitarnya) dan bagian Selatan sampai Barat (Surakarta, Magelang, Purwokerto dan sekitarnya).

Pergerakan regional maupun lokal pada dasarnya menggunakan Jalur Pantura maupun jalur tengah. Jalur ini menjadi urat nadi pergerakan terutama sebagai lintasan pergerakan internal dan eksternal. Pergerakan ini dapat diidentifikasi dengan adanya rute angkutan dan dukungan prasarana terminal di masing-masing wilayah. Jaringan jalan lainnya yang menuju atau dapat menjangkau wilayah Kedungsepur adalah jalur Grobogan-Sragen atau Solo di bagian Selatan.

Sistem angkutan penumpang dan barang di wilayah Kedungsepur sebagian besar sudah terlayani dan menjangkau sampai kedesa-desa berupa angkutan kota dan desa. Di Wilayah Kedungsepur terdapat simpul-simpul pergerakan berupa terminal dan sub terminal dimasing-masing kabupaten yang dijadikan sebagai titik awal dalam pergerakan barang dan jasa serta pergantian moda transportasi. Di Kabupaten Demak sistem transportasi sudah melayani sampai ke desa-desa dan ke sentra-sentra produksi pertanian, seperti rute Demak-Godong-Purwodadi. Di Kabupaten Demak terdapat dua terminal bus dan non bus yang dijadikan simpul pergerakan barang dan jasa untuk sistem transportasi yang ada.

Di Kota Semarang terdapat pelabuhan laut skala nasional sehingga mempermudah pula hubungan dengan pulau-pulau lain di Indonesia. Selain pelabuhan di Kota Semarang, di Kabupaten Kendal nantinya juga akan dikembangkan Pelabuhan Samudra yang merupakan pelabuhan dengan skala internasional. Di bidang transportasi udara, telah tersedia Bandara Ahmad Yani di Kota Semarang sebagai bandar udara nasional yang menghubungkan kota-kota besar di Indonesia. Kedua fasilitas ini merupakan akses penghubung Wilayah Kedungsepur menuju arus pergerakan internasional. Karenanya Wilayah Kedungsepur memiliki potensi pengembangan yang besar.

Serlain itu adanya rencana jalan tol Semarang-Solo dan Semarang-Demak akan dapat mengurangi kemacetan yang sering terjadi pada beberapa simpul di jalan utama. Rencana ini juga akan dapat membagi dan mengarahkan perkembangan wilayah agar tidak terlalu linier dan daerah belakang juga dapat ikut berkembang.

1.1 Kondisi Sistem Transportasi

  1. Transportasi Darat

Transportasi jalan merupakan jaringan transportasi penting dalam sistem transportasi darat. Sifatnya yang fleksibel dan layanan yang door to door merupakan keunggulan yang dimiliki oleh transportasi jalan. Selain itu transportasi jalan memiliki daya jangkau yang tinggi. Moda ini juga sangat baik digunakan untuk jarak dekat dan sedang. Hal yang paling mendasar dalam penyediaan sistem jaringan jalan untuk skala wilayah adalah menjamin aksesibilitas dan efisiensi.

Kabupaten/kota yang termasuk dalam Kawasan Kedungsepur terletak di jalur antara kota-kota Orde I dan juga penghubung utama antar provinsi. Yaitu melalui Jalur Pantai Utara yang menghubungkan Provinsi Jawa Timur-Jawa Tengah-Jawa Barat serta DKI Jakarta dan Jalur Pantai Selatan yang menghubungkan Jawa Tengah dengan DI Yogyakarta.

Dengan posisi yang strategis tersebut, Perencanaan sarana maupun transportasi membutuhkan penanganan yang khusus sehingga dapat mendukung penyebaran aktivitas yang pada akhirnya dapat mengurangi disparitas antar wilayah.

Jaringan prasarana jalan terdiri dari simpul yang berwujud terminal baik terminal penumpang maupun barang dan ruang lalu lintas. Ruang lalu lintas pada transportasi jalan berupa ruas jalan yang ditentukan hirarkinya menurut peranannya yang terdiri atas jalan arteri, jalan kolektor, dan jalan lokal. Di Kawasan Kedungsepur, prasarana jalan utama dapat dijabarkan sebagai berikut:

    • Arteri Primer Utama, menghubungkan Kota Semarang-Bawen-Yogyakarta; serta Semarang-Bawen-Solo;
    • Jalan Arteri primer bagian utara yang menghubungkan Weleri-Kendal-Semarang-Demak;
    • Kolektor Primer, menghubungkan Kota Semarang-Purwodadi; Ambarawa-Banyubiru-Salatiga; Bandungan-Ambarawa; Bergas-Jimbaran-Bandungan-Sumowono ke Temanggung; dll
    • Jalan Tol Semarang yang menghubungkan jalan Perintis Kemerdekaan-Teuku Umar-Krapyak-Majapahit-Kaligawe (Terminal).

 

 

  1. Transportasi Laut

Jaringan transportasi laut sebagai salah satu bagian dari jaringan moda transportasi air mempunyai perbedaan karakteristik dibandingkan moda transportasi lain yaitu mengangkut penumpang dan barang dalam jumlah besar dan jarak jauh antar pulau maupun antar negara.

Sebagai kawasan yang memiliki potensi laut yang cukup besar, prasarana transportasi laut di Kawasan Kedungsepur juga memiliki potensi besar untuk pengembangan pelabuhan laut. Pelabuhan Tanjung Emas yang terletak di Kota Semarang merupakan pelabuhan utama di Jawa Tengah yang cukup penting dan strategis karena menjadi simpul perekonomian dan pintu gerbang ekspor dan impor. Peranan ini tidak hanya berlaku bagi Kota Semarang saja namun juga Kedungsepur secara kawasan maupun secara administratif Jawa Tengah. Selain itu Pelabuhan Tanjung Emas juga memiliki potensi daerah penyangga yaitu Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan daerah Perbatasan Jawa Timur dan Jawa Barat.

Berdasarkan peran dan fungsinya, pelabuhan laut dibedakan menjadi pelabuhan internasional hub (utama primer), internasional (utama sekunder), nasional (utama tersier), regional, dan lokal. Pelabuhan Tanjung Emas sendiri termasuk dalam pelabuhan internasional (utama sekunder) yang memiliki peran dan fungsi melayani kegiatan dan alih muat penumpang dan barang dalam volume yang relatif besar karena kedekatan dengan jalur pelayaran nasional dan internasional serta mempunyai jarak tertentu dengan pelabuhan internasional lainnya.

 

  1. Transportasi Udara

Transportasi udara sangat efektif digunakan untuk angkutan jarak jauh. Hal ini dikarenakan jangkauan kecepatan dan daya jangkauannya yang cukup fleksibel dan hampir di setiap wilayah yang memiliki sarana lapangan terbang maka dapat disinggahi.

Bandara Ahmad Yani yang merupakan satu-satunya bandara yang ada di kawasan Kedungsepur baru saja memiliki status bandara internasional sesuai KM No. 64 tahun 2004 tanggal 10 Agustus 2004. Dengan status ini Bandara Ahmad Yani mulai melayani penerbangan internasional yang saat ini dibuka jalur penerbangan Semarang-Singapura.

Bandara Ahmad Yani selama empat tahun terakhir mengalami peningkatan dan pengembangan yang cukup pesat. Mulai dari penggantian status bandara menjadi bandara internasional, juga jumlah kedatangan serta keberangkatan pesawat terbang yang singgah juga mengalami peningkatan.

Peta Rencana

Kontak